Senin, 07 November 2011

Delegasi



DELEGASI





Disusun Oleh :
1.          Arifatul Fitriana
2.          Ariyo Guntoro
3.          Asim Maulana
4.          Asrofikah
5.          Ayu Setya Asih
6.          Ayuningtyas Budi R.
7.          Azizah Rahmah M.
8.          Dwi Kurniawati









PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012

Delegasi


1.    Pengertian delegasi
Delegasi adalah suatu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
Pendelegasian adalah pelimpahan kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab kepada orang lain. Pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya rutinitas sebaiknya didelegasikan ke orang lain agar seorang manajer dapat menggunakan waktunya itu untuk melakukan tugasnya sebagai seorang manajer.
Pendelegasian adalah kegiatan seseorang untuk menugaskan stafnya / bawahannya untuk melaksanakan bagian dari tugas manajer yang
bersangkutan dan pada waktu bersamaan memberikan kekuasaan kepeda staf/bawahan tersebut, sehingga bawahan itu dapat melaksanakan tugas tugas itu sebaik baiknya serta dapat mempertanggung jawabkan hal hal yang didelegasikan
kepadanya, ( Manulang,1988)
Pendelegasian merupakan proses penugasan, wewenang dan tanggung jawab kepada bawahan. ( Sujak, 1990)
Delegasai wewenang adalah proses yang paling fundamental dalam organisasi, sebab pimpinan tak kan sanggup melakukan segala sesuatu dan membuat setiap keputusan.
Pendelegasian (pelimpahan wewenang) merupakan salah satu elemen penting dalam fungsi pembinaan. Sebagai manajer perawat dan bidan menerima prinsip-prinsip delegasi agar menjadi lebih produktif dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Delegasi wewenang adalah proses dimana manajer mengalokasikan wewenang kepada bawahannya.


2.    Alasan pentingnya pendelegasian
Ada alasan delegasi itu diperlukan, diantaranya adalah :
1.      Memungkinkan atasan dapat mencapai lebih dari pada mereka menangani setiap tugas sendiri.
2.      Agar organisasi dapat berfungsi lebih efisien.
3.      Atasan dapat memusatkan tenaga kepada suatu tugas yang lebih diprioritaskan.
4.      Dapat mengembangkan keahlian bawahan sebagai suatu alat pembelajaran dari kesalahan.
5.      Karena atasan tidak mempunyai kemampuan yang dibutuhkan dalam pembuatan keputusan.
6.      Pendelegasian memungkinkan manajer perawat/bidan mencapai hasil yang lebih baik dari pada semua kegiatan ditangani sendiri.
7.      Agar organisasi berjalan lebih efisien.
8.      Pendelegasian memungkinkan manajer perawat/bidan dapat memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas prioritas yang lebih penting.
9.      Dengan pendelegasian, memungkinkan bawahan untuk tumbuh dan berkembang, bahkan dapat dipergunakan sebagai bahan informasi untuk belajar dari kesalahan atau keberhasilan.

3.    Kegiatan delegasi wewenang
Beberapa kegiatan dalam delegasi wewenang adalah :
·    Manager perawat/bidan menetapkan dan memberikan tugas dan tujuannya kepada orang yang diberi pelimpahan;
·    Manajer melimpahkan wewenang yang diperlukan untuk mencapai tujuan;
·    Perawat/bidan yang menerima delegasi baik eksplisit maupun implisit menimbulkan kewajiban dan tanggung jawab.
·    Manajer perawat/bidan menerima pertanggungjawaban (akontabilitas) atas hasil yang telah dicapai.
4.    Prinsip delegasi
Dibawah ini adalah prinsip – prinsip klasik yang dapat dijadikan dasar untuk delegasi yang efektif :
·      Prinsip scalar.
Proses skalar adalah mengenai perkembangan rantai perintah yang menghasilkan pertambahan tingkat-tingkat pada struktur organisasi. Proses skalar dicapai melalui pendelegasian wewenang dan tanggung jawab.
·      Prinsip kesatuan perintah.
Dalam melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja.
·      Tanggung jawab, wewenang, dan akuntabilitas.

5.    Cara melakukan delegasi
Cara manajer dalam melakukan delegasi antara lain :
·      Membuat perencanaan ke depan dan mencegah masalah.
·      Menetapkan tujuan dan sasaran yang realistis
·      Menyetujui standar kerja
·      Menyelaraskan tugas atau kewajiban dengan kemampuan bawahan
·      Melatih dan mengembangkan staf bawahan dengan memberikan tugas dan wewenang baik secara tertulis maupun lisan.
·      Melakukan kontrol dan mengkoordinasikan pekerjaan bawahan dengan mengukur pencapaian tujuan berdasarkan standar serta memberikan umpan balik prestasi yang dicapai.
·      Kunjungi bawahan lebih sering dan dengarkan keluhan - keluhannya.
·      Bantu mereka untuk memecahkan masalahnya dengan memberikan ide ide  baru yang bermanfaat.
·      Memberikan ‘reward’ atas hasil yang dicapai.
·      Jangan mengambil kembali tugas yang sudah didelegasikan.

6.    Teknik pendelegasian
Manajer perawat/bidan pada seluruh tingkatan dapat menyiapkan tugas-tugas yang dapat didelegasikan dari eksekutif perawat sampai eksekutif departemen atau kepala unit, dan dari kepala unit sampai perawat/bidan klinis. Delegasi mencakup kewenangan untuk persetujuan, rekomendasi atau pelaksanaan. Tugas-tugas seharusnya dirangking dengan waktu yang diperlukan untuk melaksanakannya dan sebaiknya satu kewajiban  didelegasikan pada satu waktu.
7.    Jenis pendelegasian
Dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey menyatakan bahwa ada 2 jenis pendelegasian, yaitu :
·      Pendelegasian Suruhan (Gofer Delegation)
Pendelegasian suruhan berarti : "kejar ini, kejar itu, kerjakan ini,
kerjakan itu, dan beritahu saya ketika sudah selesai."
Pendelegasian suruhan berprinsip pada metode, yaitu semua didikte secara rinci dan spesifik step by step cara melakukannya. Pendelegasian dengan cara ini banyak digunakan oleh manager karena mereka berpikir metode yang dilakukan pasti tidak akan keluar dari jalur, minim kesalahan dan sesuai dengan apa yang diinginkan. Tapi kelemahannya adalah bahwa mereka tidak melatih creative thinking anak buah mereka dan bila terjadi kesalahan si anak buah akan merasa tidak bertanggung jawab kepada hasil yang didapat.
·      Pendelegasian pengurusan (Stewardship Delegation)
Pendelegasian pengurusan berfokus pada hasil dan bukan pada metode, memberikan secara rinci hasil yang diinginkan, bukan memberikan secara rinci apa yang harus dilakukan. Pendelegasian ini memberi pilihan metode kepada anak buah dan membuat mereka bertanggung jawab atas hasil. Pendelegasian metode pengurusan memberi kepercayaan penuh kepada anak buah dan kepercayaan ini adalah bentuk tertinggi dari motivasi manusia. Kepercayaan menghasilkan yang terbaik dari diri manusia. Tetapi dibutuhkan waktu dan kesabaran, dan tanpa mengesampingkan kebutuhan untuk melatih dan mengembangkan orang sehingga kecakapan mereka dapat meningkat ke tingkat kepercayaan itu. Bila pendelegasian pengurusan dilakukan dengan benar, kedua pihak akan mendapatkan keuntungan dan akhirnya jauh lebih banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih singkat. Prinsip yang terlibat dalam pendelegasian pengurusan selalu benar dan dapat berlaku pada orang atau situasi jenis apapun.

8.    Penyebab gagalnya delegasi
·      Atasan merasa lebih jika mereka tetap mempertahankan hak pembuatan keputusan.
·      Atasan tidak ingin ambil resiko kalau saja bawahannya salah ataupun gagal dalam menjalankan wewenangnya.
·      Atasannya kurang atau tidak percaya kepada bawahannya.
·      Atasan takut apabila seorang bawahannya melakukan tugas dengan sangat baik dan efektif, sehingga dapat mengancam posisinya sebagai atasan.
·      Bawahan tidak menerima dengan alasan dapat menambah tanggung jawab yang sudah diterima.
·      Bawahan takut tidak dapat menjalankan tugas – tugas dengan benar dan dikatakan gagal.
·      Bawahan merasa tertekan apabila dilimpahkan tanggung jawab yang lebih besar.

9.    Hambatan pendelegasian
a.    Hambatan hambatan  pada delegator
·      Kemampuan yang diragukan oleh dirinya sendiri 
·      Meyakini  bahwa seseorang “mengetahui semua rincian”
·      “Saya dapat melakukannya lebih baik oleh diri saya sendiri” buah pikiran yang keliru.
·      Kurangnya pengalaman dalam pekerjaan atau dalam mendelegasikan
·      Rasa tidak aman
·      Takut  tidak disukai
·      Penolakan untuk mengakui kesalahan
·      Kurangnya kepercayaan pada bawahan
·      Kesempurnaan, menyebabkan kontrol yang berlebihan
·      Kurangnya ketrampilan organisasional dalam menyeimbangkan beban kerja
·      Kegagalan untuk mendelegasikan kewenangan yang sepadan dengan tanggung jawab.
·      Keseganan untuk mengembangkan bawahan
·      Kegagalan untuk menetapkan kontrol dan  tindak lanjut yang efektif.
b.    Hambatan- hambatan pada yang diberi delegasi
·      Kurangnya pengalaman
·      Kurangnya kompetensi
·      Menghindari tanggung jawab
·      Sangat tergantung dengan boss
·      Kekacauan [disorganization]
·      Kelebihan beban kerja
·      Terlalu memperhatikan hal hal yang kurang bermanfaat
c.    Hambatan- hambatan dalam situasi
·      Kebijakan tertuju pada satu orang
·      Tidak ada toleransi kesalahan
·      Kekritisan keputusan
·      Urgensi, tidak ada waktu untuk menjelaskan [krisis manajemen]
·      Kebingungan dalam tanggung jawab dan  kewenangan.
·      Kekurangan tenaga


Daftar Pustaka
Brown, Montague. 1997. Manajemen Perawatan Kesehatan. Jakarta : EGC
Kuntoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Yogyakarta : Nuha Medika
Potter dan Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
Suarli dan Bahtiar, Yanyan. 2002. Manajemen Keperawatan. Jakarta : Erlangga




Selasa, 01 November 2011

kepemimpinan





KEPEMIMPINAN






Disusun Oleh :
1.    Arifatul Fitriana
2.    Ariyo Guntoro
3.    Asim Maulana
4.    Asrofikah
5.    Ayu Setya Asih
6.    Ayuningtyas Budi R.
7.    Azizah Rahmah M.
8.    Dwi Kurniawati










PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL
TAHUN AKADEMIK 2011 - 2012





MASALAH :
Di rumah sakit X terdapat 11 ruang. Ruang A untuk poli, dan ruang B, C, D, E untuk rawat inap. 5 ruang lainnya untuk penunjang. Di bangsal B ada 1 perawat PA yang suka membolos. Perawat PA 2 yang lainnya suka membangkang. Ka tim 1 sering terlambat datang. Karu sibuk dengan agenda rapat. Tentukan konsep leadership untuk menyelesaikan masalah bangsal B.

IDENTIFIKASI MASALAH :
a.    Perawat PA 1 yang suka membolos
b.    Perawat PA 2 yang suka membangkang
c.    Ka tim 1 sering terlambat datang
d.   Karu sibuk dengan agenda rapat

PEMECAHAN MASALAH :
1.    Landasan Teori
a.    Pengertian kepemimpinan
Menurut Gillies (1994), dalam Arwani (2006), mendefinisikan kepemimpinan berdasarkan kata kerjanya, yaitu to lead, yang mempunyai arti beragam, seperti untuk memandu (to guide), untuk menjalankan dalam arah tertentu (to run in a specific direction), untuk mengarahkan (to direct), berjalan didepan (to go at the head of), menjadi yang pertama (to be first), membuka permainan (to open play), dan cenderung kehasil yang pasti (to tend toward a de).
Weirich dan Koontz (1993) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah seni atau proses untuk mempengaruhi orang lain sehingga mereka bersedia dengan kemampuan sendiri dan secara antusias bekerja untuk mencapai tujuan organisasi. Sementara itu, Hellriegel dan Slocum (1992) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi dan mengarahkan orang lain uantuk mencapai tujuan.
Menurut McGregor, dikutip dari swanburg (2001), menyatakan ada empat variabel besar yang diketahui sekarang untuk memahami kepemimpinan: 1) karakteristik pimpinan, 2) sikap, kebutuhan dan karakteristik lainnya dari bawahan, 3) karakteristik dari organisasi, seperti tujuan, sruktur organisasi, keadaan asli, keadaan organisasi yang akan dibentuk, dan 4) keadaan sosial, ekonomi, dan politik lingkungan. McGregor menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan hubungan yang sangat kompleks yang selalu berubah dengan waktu seperti perubahan yang terjadi pada manajemen, serikat kerja, atau kekuatan dari luar.
Ada tiga pengertian kepemimpinan yang menjadi acuan, yaitu :
1.    Suatu kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang – orang agar mau bekerja sama untuk mecapai tujuan tertentu.
2.    Seni yang berdasar dari ketentuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mau berperilaku seperti apa yang dikehendakinya.
3.    The process of influencing people to accomplish goals. ( Huber D )
b.    Pola dasar kepemimpinan
Ada 2, yaitu :
1.    Kepemimpinan formal, adalah kepemimpinan yang bersifat resmi dalam organisasi, diatur sesuai pangkat, jabatan, herarki, dan struktur dalam organisasi.
2.    Kepemimpinan informal, adalah kepemimpinan yang tidak berdasarkan atas herarki, akan tetapi lebih di dasarkan pada pengakuan nyata dari orang – orang di sekitarnya karena kemampuan mengangkat, kemampuan ilmu, kemampuan membina hubungan kerja, dan lain – lain.
c.    Komponen peristiwa kepemimpinan
Komponen peristiwa kepemimpinan ( Kison, 1989 ), terdiri atas :
1.    Pemimpin : nilai, keterampilan, gaya atau tipe kemimpinan, serta presepsi terhadap diri dan perannya.
2.    Pengikut : kesiapan untuk dipengaruhi, kepercayaan pada pemimpin, serta pengalaman kerja sama.
3.    Situasi : harapan, sistem control, struktur tugas, waktu, dan budaya kerja.
4.    Proses komunikasi : tingkat keterbukaan.
5.    Tujuan – tujuan : tujuan organisasi dan tujuan pribadi.
Melihat komponen peristiwa kepemimpinan ini, maka perlu suatu keterampilan dalam mendiagnosis, mengadaptasikan, dan mengorganisasikannya. ( Hersey dan Blancard, 1993)
d.   Teori kepemimpinan
·    Teori “ Trait “ (Bakat)
Teori ini menekankan bahwa setiap orang adalah pemimpin (pimpinan dibawa sejak lahir bukan didapatkan) dan mereka mempunyai karakteristik tertentu yang membuatmereka lebih baik dari orang lain, teori ini disebut dengan “Great Man Theory”. Banyak peneliti tentang riwayat kehidupan Great Man Theory. Tetapi menurut teori kontemporer, kepemimpinan seseorang dapat dikembangkan bukan hanya pembawa sejak lahir, dimana teori trait mengabaikan dampak atau pengaruh dari siapa pengasuh. Situasi, dan lingkungan lainnya (Marqus dan Huston,1998 dalam Arwani 2006).
Swanburg (2001) menyatakan ciri – ciri pemimpin menurut teori bakat adalah: a) inteligensi : Sifat yang berhubungan dengan inteligensi termasuk pengetahuan, ketegasan, dan kelancaran berbicara. Menyadari bahwa pengetahuan dan kompetensi dalam pekerjaan tertentu adalah salah satu faktor terpenting dalam keefektifan pemimpin. b) Kepribadian : sifat kepribadian seperti kemampuan beradaptasi, kepercayaan diri, kreativitas dan integritas personal dihubungkan dengan kepemimpinan yang efektif. Seorang pemimpin adalah orang yang efektif mengetahui bagaimana memotivasi semangat kerja para pekerja untuk mencapai tujuan organisasi. c) Kemampuan : Seorang pemimpin mempunyai cukup kepopuleran, kemasyuran, dan keterampilan interpersonal untuk memberikan symbol, memperluas, memperdalam kesatuan kolektif diantara anggotanya dalam system tersebut.
·    Teori Perilaku
Nursalam (2002) menyatakan bahwa teori perilaku lebih menekankan kepada apa yang dilakukan pemimpin dan bagaimana seorang manajer menjalankan fungsinya. Perilaku sering dilihat sebagai suatu rentang dari sebuah perilaku otoriter ke demokrat atau dari fokus suatu produksi ke fokus pegawai.
Tentang teori prilaku terdapat teori X dan teori Y dari McGregor yang dihubungkan dengan motivasi dari Moslow yang menyatakan bahwa setiap manusia merupakan kehidupan individu secara keseluruhan yang mengadakan interaksi dengan dunia individu lain (Swanburg, 2000).
e.    Gaya kepemimpinan
Gaya adalah sebagai cara penampilan karakteristik atau tersendiri / khusus. Follet (1940) mendefinisikan gaya sebagai hak istimewa tersendiri dari si ahli , dengan hasil akhirnya tanpa menimbulkan isu sampingan. Gillies (1970) dalam Nursalam (2000) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan dapat diidentifikasikan berdasarkan perilaku pimpinan itu sendiri. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh adanya pengalaman bertahun – tahun dalam kehidupannya. Oleh karena itu, kepribadian seseorang akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang digunakan. Gaya kepemimpinan cenderung sangat bervariasi dan berbeda – beda. Gaya yang dikembangkan oleh seorang pemimpin dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Ketiganya akan menentukan sejauh mana ia akan melakukan pengawasan terhadap kelompok yang dipimpin. Faktor kekuatan yang pertama bersumber pada dirinya sendiri sebagai pemimpin. faktor kedua bersumber pada kelompok yang dipempin, dan faktor yang ketiga tergantung pada situasi (Muninjaya, 1999).
Secara mendasar gaya kepemimpinan dibedakan atas empat macam berdasarkan kekuasaan dan wewenang, yaitu otokratik, demokratik, participation, dan laisez – faire atau free rain. Keempat tipe atau gaya kepemimpinan tersebut satu sama lain memiliki karakteristik yang berbeda (Gillies, 1986).
·    Gaya kepemimpinan autokratis : merupakan kepemimpinan yang berorientasi pada tugas atau pekaryaan. Menggunakan kekuasaan posisi dan kekuatan dalam memimpin dengan cara otoriter, mempertanggung jawab untuk semua perencanaan tujuan dan pembuatan keputusan serta memotivasi bawahannya dengan menggunakan sanjungan, kesalahan, dan penghargaan. Pemimpin menetukan semua tujuan yang akan dicapai dalam pengambilan keputusan (Gillies, 1986). Seorang pemimpin yang menggunakan gaya ini biasanya akan menentukan semua keputusan yang berkaitan dengan seluruh kegiatannya dan memerintah seluruh anggotanya untuk mematuhi dan melaksanakannya (DepKes, 1990).
·    Gaya kepemimpinan demokratis : merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan setiap staf. Menggunakan kekuasaan posisi dan pribadinya untuk mendorong ide–ide dari staf, memotivasi kelompok untuk menentukan tujuan sendiri. Membuat perencanaan, mengontrol dalam penerapannya, informasi diberikan seluas – luasnya dan terbuka (Nursalam, 2002). Prinsipnya pemimpin melibatkan kelompok  dalam pengambilan keputusan dan memberikan tanggung jawab pada karyawannya (La Monica, 1986).
·    Gaya kepemimpinan Partisipatif : merupakan gabungan bersama antara gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis. Dalam pemimpin partisipatif manajer menyajikan analisa masalah dan mengusulkan tindakan kepada para anggota kelompok, mengundang kritikan dan komentar mereka. Dengan menimbang jawaban bawahan atas usulannya, manajer selanjutnya membuat keputusan final bagi tindakan oleh kelompok tersebut (Gillies, 1986).
·    Gaya kepemimpinan Laisserz Faire : disebut juga bebas tindak atau membiarkan. Merupakan pimpinan ofisial, karyawan menentukan sendiri kegiatan tanpa pangarah, supervisi, dan koordinasi. Staf / bawahan mengevaluasi pekaryaan sesuai dengan cara sendiri. Pimpinan hanya sebagai sumber informasi dan pengendali secara minimal atau sebagai fasilitator (Nursalam. 2002).
f.     Pendekatan kepemimpinan
Secara umum, kita mengenal 3 pendekatan, yaitu kepemimpinan untuk memimpin suatu unit organisasi, yaitu pendekatan berdasarkan sifat ( traits theory ), pendekata berdasarkan perilaku kepemimpinan ( behavior theory ), dan pendekatan berdasarkan situasi ( contingency theory ).
1.    Berdasarkan sifat
Pendekatan kepemimpinan berdasarkan sifat seseorang dapat dilakukan dengan cara :
a.    Membandingkan sifat – sifat dari mereka yang menjadi pemimpin dan mereka yang bukan pemimpin.
b.    Membandingkan sifat – sifat dari pemimpin yang efektif dan pemimpin yang tidak efektif.
Sifat – sifat pemimpin yang diharapkan dari pendekatan ini antara lain :
a.    Selalu antusias
b.    Mengenal dirinya sendiri
c.    Waspada
d.   Mempunyai rasa percaya diri yang kuat
e.    Merasa bertanggung jawab
f.     Mempunyai rasa humor
2.    Berdasarkan perilaku
Intisari dari pendekatan kepemimpinan berdasarkan perilaku seperti di bawah ini :
a.    Teori ini menjelaskan perilaku pemimpin yang membuat sesorang menjadi pemimpin yang efektif.
b.    Pemimpin yang efektif ialah pemimpin yang menggunakan cara – cara yang dapat mewujudkan sasarannya. Misalnya, dengan mendelegasikan tugas, mengadakan komunikasi yang efektif, motivasi bawahannya, dan melaksanakan control.
3.    Berdasarkan situasi
Pendekatan ini membahas hubungan antara pemimpin dan situasi. Terdapat 3 variabel situasional yang dapat membantu gaya kepemimpinan yang efektif, yaitu :
a.       Hubungan atasan dengan bawahan
b.      Struktur tugas yang harus dikerjakan
c.       Posisi kewenangan seseorang
Pendekatan berdasarkan situasi dapat dimanifestasikan sebagai berikut :
a.    Dapat memberi perintah yang akan dilaksanakan
b.    Menggunakan saluran yang sudah ditetapkan
c.    Menaati peraturan
d.   Disiplin
e.    Mendengarkan informasi dari bawahan
f.     Tanggap terhadap situasi
g.    Membantu bawahan
g.    Tanggung jawab dan tugas
1.    Kepala ruang
             a.    Tanggung jawab kepala ruang pada penugasan tim :
·      Menetapkan standar kinerja staf
·      Membantu staf menetapkan sasaran keperawatan pada unit yang dipimpinnya
·      Memberikan kesempatan pada klien tim dan membantu untuk mengembangkan ketrampilan manajemen dan kepemimpinan.
·      Secara berkesinambungan mengorientasikan staf baru tantang prosedur tim keperawatan
·      Menjadi narasumber bagi ketua tim dan staf tempat diskusi
·      Memotivasi staf untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan
·      Melakukan kemunikasi terbuka untuk setiap staf yang dipimpinnya
·      Peka terhadap anggaran rumah sakit dan kualitas pelayanan keperawatan,
·      Bertanggung jawab terhadap hasil dari pelayanan keperawatan yang berkualitas,
·      Menghindari terjadinya kebosanan perawat serta menghindari kemungkinan terjadinya saling melempar kesalahan.
b.    Fungsi kepala ruang :
Adapun fungsi kepala ruangan menurut Marquis dan Houston (2000) sebagai berikut:
·      Perencanaan : dimulai dengan penerapan filosofi, tujuan, sasaran, kebijaksanaan, dan peraturan – peraturan : membuat perencanaan jangka pendek dan jangka panjang untuk mencapai visi, misi, dan tujuan, organisasi, menetapkan biaya – biaya untuk setiap kegiatan serta merencanakan dan pengelola rencana perubahan.
·      Pengorganisasian: meliputi pembentukan struktur untuk melaksanakan perencanaan, menetapkan metode pemberian asuhan keperawatan kepada pasien yang paling tepat, mengelompokkan kegiatan untuk mencapai tujuan unit serta melakukan peran dan fungsi dalam organisasi dan menggunakan power serta wewengan dengan tepat.
·      Ketenagaan: pengaturan ketegagaan dimulai dari rekruetmen, interview, mencari, dan orientasi dari staf baru, penjadwalan, pengembangan staf, dan sosialisasi staf.
·      Pengarahan : mencangkup tanggung jawab dalam mengelola sumber daya manusia seperti motivasi untuk semangat, manajemen konflik, pendelegasian, komunikasi, dan memfasilitasi kolaborasi.
·      Pengawasan meliputi penampilan kerja, pengawasan umum, pengawasan etika aspek legal, dan pengawasan professional. Seorang manajer dalam mengerjakan kelima fungsinya tersebut sehari – sehari akan bergerak dalam berbagai bidang penjualan, pembelian, produksi, keuangan, personalia dan lain – lain.
2.    Ketua tim
               a.    Tanggung jawab ketua tim :
·      Mengkaji setiap klien dan menerapkan tindakan keperawatan yang tepat.
·      Pengkajian merupakan proses yang berlanjut dan berkesinambungan. Dapat dilakukan serah terima tugas.
·      Mengkoordinasikan rencana perawatan yang tepat waktu, membimbing anggota tim untuk mencatat tindak kepemimpinan yang telah dilakukan
·      Meyakinkan semua hasil evaluasi berupa respon klien terhadap tindakan keperawatan tercatat.
·      Menilai kemajuan semua klien dari hasil pengamatan langsung atau laporan anggota tim
3.    Anggota tim / Perawat pelaksana
             a.    Tanggung jawab anggota tim :
·      Menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk setiap klien di unit tersebut. Misalnya pada saat jam makan siang staf dan rapat tim
·      Mengikuti instruksi keperawatan yang tertera dalam rencana keperawatan secara teliti termasuk program pengobatan
·      Melaporkan secara tepat dan akurat tentang asuhan yang dilakukan serta respon yang ditunjukkan klien
·      Menerima bantuan dan bimbingan ketua tim
           b.    Tugas perawat pelaksana :
Dalam asuhan keperawatan sebagai perawat yang profesional salah satu peran sebagai perawat pelaksana. Perawat sebagai pelaksana secara langsung maupun tidak langsung memberikan asuhan keperawatan kepada pasien individu, keluarga, dan masyarakat. Peran perawat sebagai perawat pelaksana perawat sebagai perawat pelaksana disebut Care Giver yaitu perawat menggunakan metode pemecahan masalah dalam membantu pasien mengatasi masalah kesehatan. Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara langsung atau tidak langsung (Praptianingsi, 2006). Dalam melaksanakan peran sebagai perawat pelaksana bertindak sebagai:
·       Comferter
Perawat mengupayakan kenyamanan dan rasa aman pasien (Praptianingsi, 2006). Menurut Potter & Perry (2005), peran sebagai pemberi kenyamanan yaitu memberikan pelayanan keperawatan secara utuh bukan sekedar fisik saja, maka memberikan kenyamanan dan dukungan emosi sering kali memberikan kekuatan kepada klien untuk mencapai kesembuhan. Dalam memberikan kenyamanan kepada klien, perawat dapat mendemonstrasikan dengan klien.
·      Protector dan Advocat
Perawat berupaya melindungi pasien, mengupayakan terlaksananya hak dan kewajiban pasien dalam pelayanan kesehatan (Praptianingsi, 2006). Menurut Potter & Perry (2005), sebagai pelindung perawat membantu mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan melindungi klien dari kemungkinan efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostik atau pengobatan. Utnuk menjalankan tugas sebagai advokat, perawat melindungi hak dan kewajiban klien sebagai manusia secara hukum, serta membantu klien dalam menyatakan hak–haknya bila dibutuhkan. Perawat juga melindungi hak – hak klien melalui cara–cara yang umum dengan penolakan aturan atau tindakan yang mungkin membahayakan kesehatan klien atau menetang hak – hak klien.
·       Communication
Perawat sebagai mediator antara pasien dan anggota tim kesehatan, hal ini terkait dengan keberadaan perawatyang mendampingi pasien selama 24 jam untuk memberikan asuhan keperawatan dalam rangka upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit (Praptianingsi, 2006). Menurut Potter & Perry (2005), peran sebagai komunikator merupakan pusat dari seluruh peran perawat pelaksana yang lain. Keperawatan mencakup komunikasi dengan klien, keluarga, antara sesama perawat san profesi kesehatan lainnya, sumber informasi dan komunitas. Memberikan perawatan yang efektif, pembuatan keputusan dengan klien dan keluarga, memberikan perlindungan pada klien dari ancaman terhadap kesehatannya, mengokordinasi dan mengatur asuhan keperawatan dan lain–lain tidak mungkin dilakukan tanpa komunikasi yang jelas.
·       Rehabilitator
Perawat memberikan asuhan keparawatan adalah mengembalikan fungsi organ atau bagian tubuh agar sembuh dan berfungsi normal.
Rehabilitas merupakan proses dimana individu kembali ketingkat fungsi maksimal setelah sakit, kecelakaan, atau kejadian yang menimbulkan ketidakberdayaan lainnya. Rentang aktivitas rehabilitas dan restoratif mulai dari mangajar klien berjalan dengan menggunakan alat pembantu berjalan sampai membantu klien mengatasi perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan penyakit kronis (Potter & Perry, 2005)

2.    Penyelesaian masalah berdasarkan teori : Kepala ruang harus mengidentifikasi dirinya sendiri terlebih dahulu, dia harus menyadari apa tugas seorang kepala ruang. Apabila dia terus sibuk dengan agenda rapat, tentunya anggota yang dipimpinnya merasa tidak diperhatikan, sehingga meraka bertingkah seenaknya. Yang harus dilakukan oleh kepala ruang tersebut adalah :
-       Harus pandai membagi waktu antara rapat dengan tanggung jawabnya di dalam ruangan.
-       Harus bisa menempatkan diri pada situasi dan kondisi.
-       Harus bisa memberikan contoh yang baik kepada anggotanya
-       Membuat peraturan yang tegas dan memberikan sanksi yang tegas terhadap anggotanya yang melanggar peraturan tersebut
-       Untuk menghadapi Ka tim 1, kepala ruang harus menggunakan pendekatan kepemimpinan berdasarkan perilaku, agar Ka tim dapat menjadi pemimpin yang efektif.
-       Untuk menghadapi perawat Pa 1, kepala ruang harus menggunakan pendekatan kepemimpinan berdasarkan situasi, yaitu menggunakan peluang hubungan antara atasan dengan bawahan, yang dapat memberikan perintah yang akan dilaksanakan, menaati peraturan, dan disiplin.